Kopi TIMES

Belajar Bermukim Bersama

Senin, 25 Januari 2021 - 18:39
81.35k
Belajar Bermukim Bersama Nazhori Author, Dosen LPP AIK Uhamka Jakarta

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Menjadi jelas bahwa belajar online (daring) menyajikan tentang esensi pedagogis yang membuka selubung manusia sebagai subjek dan objek yang belajar. Dan begitu terasa dalam pembelajaran daring itu, guru dan murid seperti terpisah dalam spasi waktu dan ruang meski bermukim bersama dalam rumah maya. 

Kerisauan bersama termasuk Kemendikbud, jika wabah ini tak kunjung usai. Secara tidak langsung, situasi ini menandai belajar daring akan menempuh waktu yang lebih lama dan kerinduan akan ruang kelas semakin tajam mengemuka.

Teknologi menyuguhkan kemudahan pembelajaran melalui beragam saluran agar proses belajar mengajar tetap berjalan. Sumbangan berharga dari beberapa kalangan berupa gagasan tentang pembelajaran otonom setidaknya masih layak dipertimbangkan dengan makna sepenuhnya dapat memanifestasikan metode pembelajaran alternatif. 

Belakangan pengalaman-pengalaman belajar online kita dapati tak selezat belajar tatap muka di dalam kelas. Upaya guru untuk transfer of knowledge agar peserta didik menangkap dan memeroleh pengetahuan berdasarkan prinsip-prinsip pembelajaran diwarnai dengan interaksi dan partisipasi yang sepenuhnya masih belum maksimal. Paling tidak ikhtiar tersebut merupakan bagian penting yang sejak awal telah direncanakan dengan matang.

Bagian penting tulisan ini adalah mencoba untuk memaknai pengalaman empiris yang selama ini dirasakan bersama. Karena itu, guru, murid dan orangtua sebagai entitas dalam esensinya itu pada kondisi lain merupakan eksistensi manusia. Menurut Martin Heidegger manusia adalah yang ada dalam dunia (dasein) dalam Seni Menafsirkan (F. Budi Hardiman, 2015). Dunia belajar tidak sekadar kumpulan entitas maya apalagi suatu kehadiran online. 

Keberadaan guru, murid dan orangtua adalah bagian tak terpisahkan yang selalu menyingkap makna bagaimana dalam proses belajar dan berpikir persoalan-persoalan yang muncul dapat diatasi. Sumber-sumber belajar yang ada di sekitar kita, pada kenyataannya tidak pernah terpisah dari dunia manusia.

Benda-benda itu atau sumber-sumber pembelajaran yang ada adalah bagian integral dari eksistensi manusia. Dunia termasuk dunia maya pada gilirannya adalah objek bermakna yang bisa diperoleh dan totalitas kehadirannnya ada dalam jaringan aktivitas manusia. 

Beberapa pegiat pembelajaran partisipatoris menolak relasi subjek dan objek yang terpisah. Paulo Freire dalam Pendidikan Yang Membebaskan misalnya, mengungkapkan semua subjek pembelajaran sejatinya harus hadir dan ada bersama dengan dunianya. Objek-objek pembelajaran adalah bagian dari bagaimana memaknai pembelajaran dengan menyenangkan tanpa dominasi yang mereduksi martabat kemanusiaan. 

Eksistensi manusia dalam pembelajaran adalah fokus perhatian bersama. Maka relasi yang ada dalam konteks pebelajaran bersifat dialogis, interaktif dan peduli terhadap yang lain dengan didasari pada hubungan timbal balik. Semua subjek pembelajaran dapat mengetahui suatu kenyataan dalam realitas eksternal.

Pada kenyataannya setiap manusia bisa memilih dan belajar di lokasi yang mana. Tetapi manusia tidak bisa menolak nanti akan belajar bersama-sama siapa. Sebab, setiap orang memiliki pengalaman sendiri-sendiri dan pengalaman tinggal bersama dengan yang lain itu lebih dulu hadir ketimbang kehadiran suatu komunitas, kelompok atau dunia maya.    

Di dunia maya sekalipun, guru dan peserta didik tidak pernah terpisah. Karena di dalam dunia berbeda seakan-akan keterpisahan itu ada. Keberadaan zoom, google meet dan lainnya tidak akan terpisahkan dari pembuat aplikasi itu dan penggunanya. Keberadaan platform-platform itu justeru memberikan makna kepada manusia yang menggunakan dan memanfaatkannya. 

Pada kenyataan yang lain, perasaan-perasaan psikologis hadir dalam totalitas eksistensi manusia. Sedih tak dapat hadir dalam belajar online, keterbatasan akses belajar dan persoalan lainnya yang memunculkan emosi. Bagi Heidegger, keadaan psikologis tersebut tidak berdiri sendiri (Haidar Bagir dalam K. Supeli: Dari Kosmologi Ke Dialog, Mengenal Batas Pengetahuan, Menentang Fanatisme, 2011). Heidegger mengungkapkan, ada objek yang memicu dan menjadi sumber emosi. 

Suasana hati yang mengemuka itu, tak sepenuhnya juga bersifat semata-mata subjektif. Di luar itu, ada sesuatu dan situasi-situasi yang diketahui sebagai penyebabnya. Para ahli hikmah timur menyebutnya suasana jiwa, karena sesuatu atau benda-benda yang kita inginkan sama sekali tidak bisa dipisahkan. 

Dan, bukankah kesadaran dan keinginan bagian dari kemantapan subjek dan objek untuk menyatu dalam relasi pengetahuan. Soal emosi dalam pemaknaan Heidegger, tidak sekadar persoalan yang berkaitan dengan perasaaan sensitif dan sisi emotif kesadaran manusia. Lebih dari itu merupakan aksiden dari seluruh esensi manusia berupa tabiat. 

Belajar dari bagaimana manusia untuk belajar dan bermukim bersama, pada kenyataannya dalam konteks pengalaman sekalipun dan yang lebih sederhana termasuk sains dan teori belajar tidak bisa melepaskan diri dari eksistensi manusia (dasein) yang selalu ada bersama dengan dunianya.    

***

*)Oleh Nazhori Author, Dosen LPP AIK Uhamka Jakarta.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Boyolali just now

Welcome to TIMES Boyolali

TIMES Boyolali is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.