Ekonomi

Holistic Coffe Expo 2020, Kopi Jadi Komoditas Penting Bagi Perekonomian Nasional

Jumat, 11 Desember 2020 - 19:57
85.10k
Holistic Coffe Expo 2020, Kopi Jadi Komoditas Penting Bagi Perekonomian Nasional Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Jember Hestu Wibowo. (FOTO: Humas BI Jember for TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, JEMBER – Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Jember Hestu Wibowo memberikan sambutan Holistic Coffe Expo 2020 yang diselenggarakan secara virtual, Jumat (11/12/2020). Kegiatan tersebut merupakan hasil dari sinergi antara KPwBI Jember dengan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka) Indonesia. Dalam sambutannya, Hestu mengatakan bahwa kopi merupakan komoditas penting dalam perekonomian nasional, khususnya bagi Kabupaten Jember, Jawa Timur. 

“Apabila dimaksimalkan, kopi dapat membawa keuntungan hingga pada level bukan hanya domestik, yakni global melalui eksportir. Ia menegaskan adanya platform coffeehub yang diinisiasi Puslitkoka dapat menjadi katalog kopi Jember hingga Indonesia ini, dapat membantu perluasan,” kata Hestu dalam acara yang diharapkan dapat memancing kembali gairah bisnis perkopian di kawasan Sekarkijang.

Mengenai nilai ekspor di eks-Karesidenan Besuki dan Lumajang (Sekarkijang), ia menyampaikan bahwa kontribusi yang cukup besar berasal dari pertanian dan perkebunan di tiap daerah.  

Tercatat sebesar 30% berkontribusi pada Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). 

“Sekarkijang yang termasuk di dalamnya Jember, menunjukkan pentingnya nilai ini diperhatikan untuk menopang siklus pertanian dan perkebunan yang ada di daerah,” terangnya. 

Ia menyampaikan keadaan perekonomian di Jember, indeks penjualan riil tercatat membaik walau masih negatif. Inflasi Jember saat ini tercatat 2,20 secara tahunan. 

“Ini termasuk inflasi yang terjaga, hal ini juga tidak lepas dari peran pemerintah dalam pengendalian inflasi. Seperti juga upaya mendorong konsumsi serta produksi domestik,” ujar Hestu.

“Kita harus terus mengembangkan dan mengupayakan potensi tiap daerah. Ini dapat berkontribusi pada ekonomi inklusif yang kuat dan berkelanjutan. Kami akan mendukung akselerasi ekspor pada sektor unggul di daerah, salah satunya pertanian dan perkebunan dengan beberapa langkah. Seperti pelatihan, pameran, showcase. Hal ini dilakukan untuk peningkatan dan penguatan kluster yang berpotensi ekspor. Baik barang atau jasa,” sambungnya.

Hestu menyampaikan, dari pencatatan tiap Kantor Perwakilan Bank Indonesia di Sekarkijang, kegiatan usaha yang ada mengalami pembaikan. Walau juga dari hal ini masih terkontraksi. 

Usaha di triwulan ke tiga membaik, akibat peningkatan permintaan domestik yang menopang. Meskipun dengan permasalahan penjualan domestik masih rendah, dibanding mancanegara. Ekspor meningkat dibanding permintaan domestik. 

Bergerak pada perekonomian nasional, kontraksi ekonomi pada Q3 mengalami perbaikan, setelah pada Q2 mengalami kontraksi yang lebih dalam akibat tekanan pandemi Covid-19. 

Pada dasarnya keadaan ekonomi tiap negara berbeda-beda tergantung keputusan kebijakan baik moneter atau fiskal yang diampu. 

Menurutnya, Indonesia berhasil melewati masa kontraksi. Ekonomi Indonesia Q3 2020 tumbuh membaik, didorong membaiknya mobilitas masyarakat dan pembangunan perekonomian tiap-tiap daerah. 

“Ketahanan eksternal terjaga dengan posisi cadangan devisa akhir November 173 miliar Dollar AS. Dipengaruhi penarikan pinjaman, kontribusi pajak, dan pembayaran utang. Ke depan BI akan tetap terus bersinergi dengan beberapa pihak, pemerintah, otoritas terkait hingga juga lembaga-lembaga lain antar daerah.” ujar Hestu

Plaftom Coffeehub milik Puslitkoka ini merupakan kegiatan pintu pertama dengan harapan dapat berlanjut dengan acara besar lainnya. Website ini ialah upaya peningkatan produksi UMKM kopi sehingga dapat naik level dan dapat bekerja sama dengan perusahaan yang lebih besar misalnya eksportir, sehingga kopi Indonesia lebih meluas,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Jember Arif Tjahjono yang mewakili Bupati Jember dr Faida dalam pembukaan Holistic Coffe Expo 2020 mengatakan, Kabupaten Jember meski belum dikenal sebagai sentra penghasil kopi nasional, namun memiliki area pengembangan kopi dan perusahaan pengembangan kopi. 

Total area perkebunan sebesar 5.586 hektare dengan produksi 2.516 ton kopi. (*)

Lebih lanjut, Arif menjelaskan meski area kepemilikan 0,35 hektare per kepala keluarga (KK), namun agrobisnis kopi tersebut melibatkan tidak kurang dari 15 KK. Sehingga mendukung potensi pemberdayaan ekonomi kerakyatan dan pengetasan daerah tertinggal.

"Selama ini telah terjadi sinergi postif antara Puslitkoka dengan Pemkab Jember. Seperti adanya kegiatan wisata edukasi para tamu dari berbagai daerah di Indonesia. Sehingga memberi kontribusi positif pada perekonomian. Stakeholder kopi nasional bahkan dunia cukup mengenal Jember melalui hal ini,” tambahnya dalam Holistic Coffe Expo 2020 yang digelar selama dua hari, yakni 11 – 12 Desember 2020.

Direktur Riset Perkebunan Nusantara (RPK) Iman Yani Harahap yang juga ikut membuka acara tersebut berharap akan ada penguatan perkonomian nasional dari kopi. 

Hal tersebut mengingat bisnis kopi ini merupakan pendekatan ekonomi kerakyatan. 

“Sebesar 90 persen perkebunan kopi dikelola oleh usaha perkebunan rakyat. Ini merupakan bentuk riil konkret usaha ekonomi kerakyatan yang perlu ditopang agar mampu mendorong perekonomian nasional,” ujarnya.

Dia menerangkan, usaha perkebunan dan pertanian berbasis kopi pada dasarnya telah lama ada di Indonesia. 

Sejak masa kolonial Belanda, yang berada di Ijen salah satunya. Yakni Java Coffe yang bertahan hingga saat ini. 
Menurut Iman, hal ini ikut mendorong penyebaran kopi di Indonesia hingga Indonesia disebut sebagai Specialty Coffee. Ia menyampaikan sudah ada 35 brand kopi dari Aceh hingga Papua yang telah memiliki perlinungan industri sejauh ini.

Iman juga menyinggung akan kondisi komoditas kopi saat ini. Pada kenyataannya kebutuhan akan komoditas kopi mengalami ketimpangan. 

Jumlah permintaan konsumsi kopi masih terlalu tinggi belum diimbangi produksi kopi yang sesuai target. Iman menyampaikan dari hal ini perlu diperhatikan oleh para produsen kopi di Indonesia agar sama-sama mendiskusikan ketimpangan permintaan ini. Guna mengejar jumlah produksi kopi.

Jika dihitung secara kinerja global, Indonesia masuk pada urutan ke empat negara terbesar penghasil kopi. 

“Indonesia merupakan produsen kopi ke empat terbesar di dunia setelah Brazil, Vietnam, dan Kolombia. Ada 700 ribu ton produksi di Indonesia saat ini dan perlu ditingkatkan. Roadmap 20 tahun ke depan, kita diharap bisa mencapai tingkat produsen kopi terbesar kedua di dunia dengan perkiraan produksi 1,4 juta ton pertahun,” ungkapnya.

“Tentunya untuk mencapai itu, ada beberapa hal yang dibutuhkan. Dibutuhkan effort dari segala pemangku kebijakan. Penguatan pada beberapa pihak yang terlibat seperti petani, serta pengusaha sangat penting dimasifkan,” terangnya dalam Holistic Coffe Expo 2020. (*)

Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Boyolali just now

Welcome to TIMES Boyolali

TIMES Boyolali is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.